Pilkada Banda Aceh 2017

Ulama Kharismatik Aceh: Kepemimpinan Perempuan Itu Haram

FOTO | ISTIMEWAUlama Kharismatik Aceh Abu Tumin Blang Bladeh

BANDA ACEH – Isu kepemimpinan perempuan yang mencuat selama ini mendapat titik terang dan pandangan para ulama kharismatik di Aceh. Tiga tokoh Ulama Aceh lintas daerah angkat bicara terkait kepemimpinan perempuan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Tgk. H. Muhammad Amin (Abu Tumin) di Bireuen, Tgk. H. Marhaban Adnan Bakongan (Waled Marhaban Bakongan) di Bakongan, Aceh Selatan, dan Tgk. H. Asnawi Ramli (Abah Asnawi Lamno), Aceh Jaya, Senin (5/2)

“Walaupun dalam Al Quran dan Hadist tidak menyebutkan secara jelas tentang kepemimpinan perempuan, tapi semua ulama fuqaha (ahli Fiqh – red) sepakat bahwa kepemimpinan perempuan itu haram, ini yang termaktub dalam kitab-kitab ulama, walaupun secara pribadi saya punya pendapat tersendiri,” tegas Abu Tumin di kediaman pribadinya.

Terkait peusijeuk (tepung tawar) yang dilakukan oleh Abu Tumin kepada salah satu kandidat Calon Walikota Banda Aceh 2017 di Bireuen, menurutnya itu adalah hal yang biasa. Karena ada beberapa Calon baik tingkat Bupati/Walikota ataupun tingkat Gubernur sering mendatanginya untuk di-peusijeuk.

“Saat peusijeuk, saya tidak tahu akan diartikan sebagai peusijeuk apa (dukungan atau lainnya), karena banyak calon Walikota/Gubernur atau pengusaha yang datang kepada saya, tidak mungkin saya menolak untuk tidak di-peusijeuk,” ungkap Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussalam, Bireuen ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Pimpinan Dayah Bahrul ‘Ulum Diniyyah Islamiyyah (BUDI) Lamno, Abah Asnawi Lamno. Menurutnya, semua dalil syar’i menyebutkan bahwa kepemimpinan perempuan itu haram, dan haram juga memilih perempuan siapapun dan dimanapun sebagai pemimpin. Walaupun dengan sistem demokrasi sekarang. Jika akhirnya terpilih nanti, kita wajib mentaatinya sebagai seorang pemimpin, karena dalam kondisi darurat,” ujar Abah Asnawi saat mengisi kajian bulanan alumni BUDI Lamno di Dayah YADDA, Lamreung Aceh Besar.

Terkait Aceh dalam sejarah pernah dipimpin oleh para Sulthanah, Waled Marhaban Bakongan menilai hal tersebut harus dilihat konteksnya secara syar’i dan objektif. Akan tetapi dalam kondisi saat ini di Aceh, kepemimpinan perempuan itu jelas haram.

“Masa kepemimpinan Sulthanah di Aceh, perempuan hanya memegang kendali administrasi semata, akan tetapi pelaksanaan pemerintah dipimpin oleh seorang Qadhi Malikul Adil dan Syaikhul Islam. Jadi tidak mutlak seperti saat ini. Jika melihat saat ini, jelas secara syariat haram dipimpin oleh perempuan,” tutup Waled Marhaban

Sumber:Rel
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...