Ciptakan Lapangan Kerja

Pertumbuhan Ekonomi Harus Didukung Penguatan Infrastruktur

FOTO | TEMPO.COPresiden Joko Widodo memberi sambutan dalam pertemuan awal tahun dengan para pelaku industri jasa keuangan di Istana Negara

JAKARTA - Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang, seiring akan berakhirnya bonus demografi yang akan berakhir di 2030-2035. Untuk itu, mau tak mau pertumbuhan ekonomi harus dipacu lebih tinggi lagi karena kelebihan jumlah penduduk jika tak diimbangi dengan lapangan kerja yang luas akan menyebabkan pengangguran.

Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Yoga Affandi menuturkan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi memerlukan sustainabilitas atau berkelanjutan, agar tercipta fondasi yang kuat dan tidak turun drastis di tahun-tahun berikutnya. “Kita tidak menginginkan periode di mana kita tumbuh lebih tinggi kemudian turun. Oleh karena itu bukan hal yang ekonomis seperti yang selama ini dalam track,” kata Yoga Affandi dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Bank Indonesia di Crowne Hotel Bandung, Sabtu, 18 Februari 2017.

Yoga menambahkan pendorong pertumbuhan ekonomi bisa meningkat salah satunya berasal dari reformasi struktural yang dicanangkan pemerintah. Salah satunya paket kebijakan yang sampai saat ini berjumlah 14 kebijakan, yang akan mereformasi dan memberikan fondasi yang kuat bagi pembangunan kedepannya.

“Kalau infrastruktur lebih-lebih, maka yang menjadi barometer nasional, misalnya proyek MRT sudah jadi, dan berbagai sistem pembayaran lebih efisien, maka itu akan mendorong ekonomi lebih tinggi. Itu akan berjalan ke depannya,” tuturnya.

Yoga mencontohkan negara Filipina. Berkat Presiden Benigno Simeon "Noynoy" Cojuangco Aquino III, pertumbuhan ekonomi negara itu lebih tinggi berada di kisaran 7 persen. Itu terjadi karena sisi struktur negara tersebut yang kuat, salah satunya transaksi ekonomi dalam neraca perdagangan mereka yang mengalami surplus. “Selain itu mereka memiliki remitansi yang cukup besar, sekitar US$ 20 miliar setahun. Itu yang menyebabkan transaksi berjalan mereka surplus. Itu yang menyebabkan ekonomi mereka suprlus dan ini yang belum ada di indonesia,” ucap Yoga.

Yoga menambahkan, sebelum terjadi krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 7-8 persen. Hal itu salah satunya berasal dari net ekspor yang tinggi. “Kita menginginkan hal itu ke depan. Dengan basis manufaktur yang cukup kuat, dengan konsumsi kelas menengah yang cukup kuat, harusnya kita memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi,” ucapnya.

Sumber:tempo.co
Rubrik:Nasional

Komentar

Loading...