Hacker Bongkar

Sekongkol UEA dan Kelompok Pro-Israel

FOTO | MSNBCYousef al-Otaiba, Dubes UEA untuk AS, yang emailnya diretas hacker.

WASHINGTON - Kelompok hacker meretas dan membocorkan dokumen email milik Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Amerika Serikat (AS) Yousef al-Otaiba. Dokumen itu mengungkap persekongkolan erat pemerintah UEA dengan Foundation for Defense of Democracies (FDD), kelompok pemikir pro-Israel.

Seri pertama dari dokumen email milik Otaiba telah dirilis kelompok hacker. Bocoran dokumen diterbitkan The Intercept hari Sabtu (3/6/2017).

Peretasan email diplomat UEA itu sebagian dimulai pada tahun 2014 yang mengungkap kerjasama backchannel tingkat tinggi antara FDD, yang didanai oleh miliarder pro-Israel Sheldon Anderson dan UEA.

Persekongkolan FDD dan UEA itu juga melibakan para jurnalis yang menerbitkan artikel berisi tuduhan bahwa Qatar dan Kuwait mendukung terorisme.

Bocoran dokumen email itu juga mencakup kontak antara Otaiba dan Robert Gates, mantan menteri pertahanan AS di era pemerintahan George Bush.

Otaiba selama ini dikenal sebagai tokoh penting di lingkungan keamanan nasional AS, di mana para pejabat Washington menganggapnya sebagai “sosok paling menawan di Washington”. Dia pernah berpartisipasi dalam pertemuan strategi Pentagon atas undangan pejabat pertahanan.

Bocran email Otaiba turut membeberkan pertukaran komunikasi konselor senior FDD John Hannah—mantan wakil penasihat keamanan nasional untuk Wakil Presiden Dick Cheney—dengan Otaiba. Dalam pertukaran komunikasi, Hannah pernah mengeluh kepada Otaiba bahwa Qatar mengadakan pertemuan dengan Hamas di sebuah hotel yang dimiliki oleh pengusaha UEA.

Otaiba menanggapi bahwa UEA tidak bersalah dan bahwa masalah sebenarnya terletak pada pangkalan militer AS di Qatar. "Bagaimana ini, Anda memindahkan pangkalan maka kita akan pindah hotel :-),” tulis Otaiba kepada Hannah dengan emoji senyum.

Masih menurut dokumen yang bocor, FDD dan pemerintah UEA pernah dijadwalkan melakukan pertemuan pada 11-14 Juni. Agenda tersebut mencakup diskusi mendalam mengenai Qatar, termasuk media Al Jazeera yang berbasis di Qatar.

Al Jazeera, dalam dokumen itu, dianggap sebagai instrumen ketidakstabilan regional.

Sumber:sindonews.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...