Mahkamah Agung,

Minta Aparat Jangan Tebang Pilih Tangani Kasus Penyelundupan BBM

FOTO | DETIK.COMGedung MA di Jalan Medan Merdeka Utara

JAKARTA - Mahkamah Agung (MA) menyerukan agar aparat penegak hukum tidak tebang pilih dalam penanganan kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM). Hal itu disampaikan saat mengadili kasus penyelundupan 32 ton BBM di lepas pantai.

Kasus itu terjadi di selat Capalulu, Kepulauan Sula, Maluku Utara. Pada 23 Maret 2013, Kapal KM Andre Permai membawa puluhan ton BBM bersubsidi. Seharusnya, BBM itu dikirim ke Desa Pas Ipa di Pulau Mangoli, tetapi dibelokkan ke Pulau Taliabu. Aparat kemudian memproses kasus tersebut.

Namun aparat hanya menjerat nakhoda kapal Arsad La Madu dan pemilik kapal, Hubertus Wowor. Oleh Pengadilan Negeri (PN) Labuha, keduanya dibebaskan. Di tingkat kasasi, keduanya kemudian dihukum.

"Menjatuhkan hukuman kepada Arsad La Madu selama 8 bulan penjara dan Hubertus Wowor selama 1 tahun penjara," kata ketua majelis hakim agung Surya Jaya sebagaimana dilansir website MA, Selasa (6/6/2017).

Selain itu, keduanya juga dihukum denda Rp 5 miliar subsidair 4 bulan kurungan. Menurut majelis, tidak adil bila keduanya saja yang diproses dan dijatuhi hukuman. Sebab, masih menurut majelis, pihak yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam hal terjadinya tindak pidana a quo melanggar Pasal 53 huruf b UU Nomor 22 Tahun 2001 adalah Saudari Venny Anti Krihkof dan PT Sarana Lestari selaku pemilik BBM bersubsidi, yang meminta para Terdakwa untuk mengangkutnya.

Venny dan PT Sarana Lestari harus diproses secara hukum oleh pihak yang berwajib dan tidak dinyatakan DPO.

"Untuk menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran, aparat tidak boleh bertindak melindungi pihak-pihak tertentu. Selain itu, jika terbukti oknum pihak PT Pertamina setempat terbukti menjual BBM bersubsidi kepada saudari Venny Anti Krihkof dan pemilik PT Sarana Lestari harus pula diproses secara hukum, sehingga tidak ada perlakuan tebang pilih," ujar majelis yang beranggotakan Syarifuddin dan Desnayeti.

Komentar

Loading...