USM Gelar Seminar Nasional,

Petani Garam Hidup Miskin

BANDA ACEH - Usaha pembuatan garam oleh sebagian masyarakat yang mendiami pesisir Aceh telah berlangsung lama, dari generasi ke generasi. Namun demikian sektor ini belum dipandang sebagai sektor ekonomi penting untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat pesisir, sehingga banyak petani garam yang hidup miskin.

Saat ini petambak garam di Aceh berjumlah sekitar 1.180 orang, yang tersebar di sejumlah kabupaten seperti Aceh Timur 131 orang, Aceh Utara 204 orang, Pidie 300 orang, Pidie Jaya 177 orang, Bireuen 162 orang dan Aceh Besar 206 orang.

Hal demikian disampaikan Yety Rochwulaningsih dari Universitas Diponegoro pada Seminar yang mengusung tema Eksplorasi Kekayaan Maritim Aceh Di Era Globalisasi dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia, di Universitas Serambi Mekkah (USM) Banda Aceh, Kamis (24/08).

Yety Rochwulaningsih menyebutkan sejumlah permasalahan dalam pengembangan usaha pembuatan garam di Aceh seperti keterbatasan teknologi, kesulitan tempat penyimpanan saat produksi melimpah, harga garam yang tidak stabil, pasar yang terbatas serta masih banyak lahan tambak garam yang hancur diterjang tsunami 2004 silam belum bisa dimaksimalkan kembali.

Sementara itu Ketua Panitia Seminar Mujiburrahman menyebutkan tujuan dari kegiatan itu antara lain untuk menggali potensi kemaritiman Aceh, sehingga pemanfaatannya bisa dirasakan sebesar-besarnya oleh masyarakat.

“Kita melihat bagaimana potensi garam di Aceh. Artinya garam adalah komoditi yang penting dan potensi itu ada di Aceh,”lanjutnya.

Mujiburrahman menambahkan kegiatan itu turut mengundang sejumlah pakar dari berbagai universitas di Indonesia seperti Prof Dr Ing. Misri Gozan, M Tech. IPM dari Universitas Indonesia (UI) dengan mengupas pengembangan Produk Biokimia Berbasis Kelautan Skala Industri.

Kemudian, Prof Dr Ir Indra Jaya, MSc dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengupas Penguasaan Teknologi Akustik, Instrumentasi dan Robotika Kelautan bagi kejayaan maritim Aceh, dan Prof Dr Yety Rochwulaningsih, MSi dari Universitas Diponegoro dengan mengupas tipologi dan upaya pengembangan garam rakyat di Aceh. Dr Muslem Daud, MEd dari Universitas Serambi Mekkah dengan mengupas peluang dan tantangan pendidikan wilayah pesisir Aceh.

Editor:AK Jailani
Photographer:AK Jailani
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...