Malala Yousafzai,

Tuntut Suu Kyi Kecam Persekusi Rohingya

FOTO | ISTIMEWAMalala Yousafzai

JAKARTA - Malala Yousafzai, penerima Nobel Perdamaian termuda, meminta Aung San Suu Kyi yang juga mendapatkan penghargaan tersebut untuk mengecam "perlakuan tragis dan disayangkan" terhadap populasi Rohingya di Myanmar.

Advokat pendidikan berusia 20 tahun itu mengkritisi Suu Kyi, penasihat negara sekaligus pemimpin de facto Myanmar, atas sikap diamnya menanggapi penderitaan Rohingya yang kini terpaksa mengungsi karena persekusi oleh militer Myanmar.

"Selama beberapa tahun terakhir, saya telah berulang kali mengecam perlakuan tragis yang disayangkan ini. Saya masih menunggu rekan saya sesama penerima Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, untuk melakukan hal yang sama," tulis Yousafzai pada Selasa (5/9). "Dunia menunggu dan para Muslim Rohingya menunggu."

Rohingya, minoritas Muslim di negara yang didominasi umat Buddha ini, dinilai sebagai salah satu kelompok yang mengalami persekusi paling parah di dunia. Myanmar, menilai mereka sebagai warga Bangladesh dan begitu pula sebaliknya, sehingga mereka tidak mempunyai status kewarganegaraan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut bentrokan dan kekerasan terbaru di Myanmar telah menewaskan ratusan orang, dan memaksa 73 ribu warga Rohingya lainnya untuk mengungsi melintasi perbatasan sejak 25 Agustus lalu.

Di bagian utara Rakhine, sejumlah pegiat kemanusaian melaporkan setidaknya 30 ribu warga Rohingya lain terjebak di perbukitan tanpa pasokan bahan pokok, makanan air atau obat-obatan.

Mereka disebut terperangkap di antara Maungdaw dan Rathedaung karena tidak bisa menyeberangi Sungai Naf menuju Bangladesh.

Video yang diperoleh CNN dari para pegiat menunjukkan puluhan orang, termasuk anak-anak, terperangkap di pegunungan yang dikelilingi hutan lebat, tinggal di penampungan seadanya yang dibuat menggunakan tongkat dan lembaran kayu.

"Nyawa orang-orang yang paling terancam harus segera diselamatkan tanpa menunda-nunda lagi," kata direktur eksekutif Burma Human Rights Network, Kyaw Win, dalam pernyataan pers.

Yousafzai meminta penderitaan yang dia sebut menghancurkan hati itu segera dihentikan dan pemerintah Myanmar harus mengakui populasi Rohingya sebagai warga negara yang setara.

"Jika rumah mereka bukan di Myanmar, di mana mereka telah tinggal selama beberapa generasi, lalu di mana lagi? Rohingya harus diberi status kewarganegaraan Myanmar, negara di mana mereka dilahirkan," ujarnya.

"Negara-negara lain, termasuk negara saya di Pakistan, harus mengikuti contoh Bangladesh dan memberi makanan, penampungan dan akses edukasi untuk keluarga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan dan teror."

Sumber:CNN INDONESIA
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...