BNN Hapus Citra Ganja dari Aceh

kompas.comPolisi sedang membakar batang ganja di lokasi penemuan 13 hektare ladang ganja Dusun Alue Garot, Desa Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Jumat 1 April 2016.

JAKARTA - Cap Aceh daerah yang menghasilkan ganja akan dihapuskan bertahap lewat konsep pembangunan alternatif (alternatif development) milik Badan Narkotika Nasional (BNN). Pesanan ganja dari luar negeri pun harus dipangkas.

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso (Buwas) mengatakan, program untuk Aceh ini dirancang berjalan pada periode 2016-2025. Melalui program itu, pihaknya akan memberi alternatif tanaman yang bisa dijadikan sumber penghasilan baru bagi masyarakat lokal dan menggantikan ganja.

"(Tahun) 2019 kita sudah mulai eksis tanaman apa kita tanam, mulai ada contoh wilayah yang jadi pilot project. Tanaman itu bisa saja padi, jagung, kopi, coklat, yang cocok di daerah itu dan punya nilai ekonomi tinggi," ujar Buwas di kawasan Kartika Chandra, Jakarta, Rabu 11 Oktober 2017.

Rencana tersebut sudah dikomunikasikan dengan pejabat daerah di Aceh. Ia mengklaim ada sambutan positif dari masyarakat serta petani di Aceh terkait program ini.

Menurut Buwas, masyarakat dan petani di Aceh sebetulnya enggan menanam ganja. Mereka terpaksa melakukan itu karena mendapat pesanan dari luar daerah.

"Keuntungan mereka sebenarnya kecil sekali, yang dapat besar itu para penyandang dana dan pemesan itu," ungkap dia.

Dana bagi masyarakat untuk menanam ganja di Aceh disebut berasal dari kota-kota besar seperti DKI Jakarta dan Medan. Buwas berkata, ada juga kemungkinan aliran dana dari luar negeri yang masuk untuk pemesanan tersebut.

"Bisa saja penemuan (pendanaan dari luar) itu karena ganja Aceh ini dikenal berkualitas di internasional. Oleh sebab itu (asing) selalu mendorong bagaimana Aceh produksi ganja," katanya.

Aparat penegak hukum berulangkali melakukan penangkapan terhadap para pelaku peredaran ganja asal Aceh, maupun pemusnahan puluhan hektare ladang ganja di Aceh.

Misalnya, saat Mabes Polri dan Polda Aceh memusnahkan 50 hektare ladang ganja di Desa Piyeung, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, pada Senin 15 Mei 2017.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan kepada ribuan siswa-siswi SD, SMP, SMA/SMK se-Jabodetabek untuk menghindari segala jenis narkoba, termasuk ganja. Penggunaan narkoba, walau hanya untuk mencoba, mesti dihindari.

Sebab, negara membutuhkan generasi muda yang sehat dan mampu bersaing pada era kompetisi global.

"Ganja harus kita hindari, sabu-sabu harus kita hindari, kokain harus kita hindari, heroin juga sama sangat berbahaya, oleh karenanya harus kita hindari," kata Presiden saat berinteraksi bersama seorang siswa SMA Angkasa 2 bernama Rian, di Hall D JI-Expo, Kemayoran, Jakarta, hari ini.

Komentar

Loading...