[Opini]

Mengukur Keberhasilan Unsyiah

Foto | ISTIMEWAUniversitas Syiah Kuala Banda Aceh.

BANDA ACEH - Perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam pembangunan negara dan bangsa. Seiring perkembangan zaman perguruan tinggi harus berbenah dalam menghadapi tantangan global yang semakin ketat dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal ini membutuhkan dukungan semua sektor baik internal dan eksternal kampus.

Univesitas Syiah Kuala (Unsyiah) merupakan universitas pertama dan tertua di Provinsi Aceh diberi julukan “Jantong Hatee Rakyat Aceh”. Kampus ini diresmikan oleh proklamator dan Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno 2 September 1959 silam, usia Unsyiah kini sudah mencapai 56 tahun, tentunya usia tersebut sudah lebih dari setengah abad, bila diibaratkan seorang insan manusia sudah dikatakan “berkepala lima” alias sudah tidak muda lagi. Sejak diresmikan, Unsyiah sudah memiliki 10 rektor, sekarang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir Samsul Rizal, M.Eng.

Seiring waktu dan bertambahnya usia Unsyiah, fakultas dan program studi kini semakin bertambah. Fakultas Ekonomi (FE) merupakan fakultas yang lahir pertama di Unsyiah dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) merupakan fakultas termuda. Selain itu ada Program Pascasarjana (PPS) yang menaungi Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3).

Unsyiah telah berhasil mendapatkan akreditasi institusi dengan predikat nilai A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), sebuah capaian tertinggi yang didapatkan Unsyiah secara kelembagaan yang sulit didapatkan oleh perguruan tinggi lainnya. Selain itu perkembangan jumlah program studi yang kian hari semakin banyak dan diselaraskan dengan kebutuhan daerah untuk memenuhi SDM. Selain itu, akreditasi program studi, spesialis dan profesi terus meningkat dengan pembuktian dari 130 keseluruhan (prodi Diploma III, S1, S2, S3, profesi dan spesialis) yang ada di unsyiah terdapat 26 diantaranya sudah berakreditasi A, 59 sudah berakreditasi B, 18 berakreditasi C dan 27 lainnya sedang di visitasi dan masih prodi baru (data per 31 Agustus 2017, data.unsyiah.ac.id).

Torehan prestasi Unsyiah selama Rektor Prof. Samsul Rizal sangat memuaskan, terbukti dengan publikasi karya ilmiah dosen sampai Mei 2012, Unsyiah telah mencatat 245 judul publikasi ilmiah internasional yang terindek di Scopus, posisi Unsyiah tidak pernah berubah selama kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu di posisi ke 12 nasional atau posisi 2 di Sumatera di bawah Univesitas Andalas, diatas Universitas Lampung, Universitas Sumatra Utara (USU) dan universitas lainnya di Sumatra, ada 108 mahasiswa berhasil memperoleh prestasi akademik dan non akademik, Selama kurun waktu 5 tahun sejak 2012 hingga 2016, tercatat Kinerja dari Perpustakaan Unsiah mengalami kenaikan positif yang sangat signifikan, mulai dari serapan anggaran dan pendapatan yang diperoleh perpustakaan, pengunjung yang semakin meningkat tiap tahunnya, serta peminjaman buku serta jumlah anggota perpustakaan semakin melonjak tajam. Secara statistika peningkatan ini terlihat juga dari 9 variabel indikator kinerja utamanya yaitu Pendapatan asli perpustakaan, realisasi anggaran PNPB, Realisasi anggaran BOPT, jumlah pengunjung, jumlah peminjaman buku, jumlah anggota yang meminjam, jumlah anggota terdaftar, serta jumlah PageView ETD atau skripsi online.

Lulusan Unsyiah juga banyak melahirkan tokoh-tokoh penting dan menduduki jabatan strategis serta berkontribusi kepada daerah dan nasional misalnya  Ismail SE alumni Fakultas Ekonomi yang saat ini menjadi pengusaha di Jakarta dan ketua Ikatan Alumni Unsyiah (IKA) Jakarta; H. Ibnu Hasim, S.Sos., MM alumni Fakultas Ekonomi yang saat ini menjabat sebagai Bupati Gayo Lues; Dalimi, SE. Ak alumni Fakultas Ekonomi yang menjabat Wakil Ketua DPRA; Merah Sakti, SH alumni Fakultas Hukum yang menjabat Walikota Subulussalam; Darwis, SH alumi Fakultas Hukum seorang advokad senior di Banda Aceh; dan Drs. Sulaiman Abda alumni Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang menjabat Wakil Ketua DPRA, dan masih banyak lainnya.

Salah satu ukuran keberhasilan Unsyiah selama ini karena sudah mengimplementasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) di Perguruan Tinggi (PT). Pada dasarnya untuk mengukur tingkat keberhasilan implementasi SMM dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif.

Metode kualitatif, metode ini  membandingkan suatu kondisi secara diskriptif keadaan dan kejadian secara penggambaran dan disajikan dalam bentuk kualitatif bukan dalam bentuk kuantitatif. Misalnya, mendiskripsikan kemudahan dalam pengambilan dokumen sistem mut, atau kemudahan menelusuri baik dokumen mutu maupun rekaman dari proses kegiatan.

Metode kuantitaif, metode ini membandingkan suatu kondisi sebelum dan sesudah implementasi SMM dengan menyajikan data dan fakta dalam bentuk angka kuantitaitif. Semua kegiatan, keadaan dan kejadian digambarkan dan disajikan bukan dalam bentuk kualitatif tetapi dalam bentuk angka-angka dengan analisis kuantitatifnya.

Untuk mengukur keberhasilan implementasi SMM di PT, tidak sama dengan indikator-indikator di perusahaan manufaktur, karena core-businessnya jelas berbeda. Untuk dapat mengukur tingkat keberhasilan implementasi SMM ini rekaman data dan fakta harus tersedia.  Indikator-indikator ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari sisi produktifitas pembelajaran mahasiswa, produktifitas karyawan dan dosen, efisiensi proses internal, dan efektifitas pendanaan.

Selain indikator-indikator produktifitas, bisa juga digunakan indikator yang berkaitan dengan perangkat SMM-nya, misalnya : a. Ketersediaan Dokumen, b. Kemudahan Telusur Dokumen, c. Mutu Jasa, dan d. Keluhan Pelanggan.

Selain itu, kinerja perguruan tinggi selalu dipertaruhkan dalam penilaian baik eksternal maupun internal. Kinerja perguruan tinggi dapat dinilai dengan Critical Success Factors  atau faktor keberhasilan utama adapun pengertiannya adalah suatu area yang mengindikasikan kesuksesan kinerja unit kerja organisasi.

Area CSF ini menggambarkan preferensi manajerial dengan memperhatikan variabel-variabel kunci finansial dan non-finansial pada kondisi waktu tertentu. Suatu CSF dapat digunakan sebagai indikator kinerja atau masukan dalam menetapkan indikator kinerja. Identifikasi terhadap CSF dapat dilakukan terhadap berbagai faktor misalnya, potensi yang dimiliki organisasi, kesempatan, keunggulan, tantangan, kapasitas sumber daya, dana, sarana-prasarana, regulasi atau kebijakan organisasi, dan sebagainya. Untuk memperoleh CSF yang tepat dan relevan, CSF harus secara konsisten mengikuti perubahan yang terjadi dalam organisasi. Setiap organisasi mempunyai CSF yang berbeda-beda karena sangat tergantung pada unsur-unsur apa dari organisasi tersebut yang dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan.

Adapun Critical Success Factors dalam Penetapan Indikator Kinerja Perguruan Tinggi antara lain adanya CSF, mempunyai Tujuan Strategik dan indikator Kinerja. Masing-masing mempunyai 5 point penting yaitu layanan berkualitas dan tepat waktu, Pegawai yang bermutu tinggi dan terlatih, Dosen yang berkualitas, Sistem pengajaran yang efektif dan efisien, Kelengkapan sarana dan prasarana.

Secara kelembagaan, Unsyiah telah berhasil membawa dan mengharumkan nama baik Aceh level nasional dan regional Sumatera. Perlu peningkatan dan pengembangan secara holistik baik input, output serta outcome dari universitas yang dijuluki “jantong hatee rakyat Aceh”.

 

Penulis

Benny Syuhada, S.IP,M.Si, Peneliti JSI 

Rubrik:AcehOpini

Komentar

Loading...