Program ‘Banda Aceh Gemilang’ Mulai dinikmati Warga Kota

FOTO | HUMAS PEMKO BANDA ACEH.
A A A

BANDA ACEH - Tepat pada 7 Juli 2018 nanti, genap setahun Aminullah Usman dan Zainal Arifin memimpin Kota Banda Aceh.

Belum genap setahun kepemimpinan Amin-Zainal sejumlah program mulai terealisasi, seperti program santunan kematian dan program paket kelahiran.

Program ini sudah mulai berjalan dimana sudah diluncurkan oleh Wali Kota beberapa waktu yang lalu. Warga kota yang keluarganya meninggal dunia terhitung April lalu juga sudah mendapatkan santunan dari Pemko Banda Aceh. Begitu juga dengan program paket bantuan kelahiran, juga telah berjalan. Setiap bayi yang lahir dari warga Banda Aceh akan diberikan bantuan berupa paket untuk kebutuhan bayi.

Hal ini disampaikan Wali Kota pada program Wali Kota Menjawab, Jum’at (29/6/2018) di pendopo Wali Kota.

Sesuai dengan visi misi ‘Banda Aceh Gemilang Dalam Bingkai Syariat’ yang memprioritaskan pada bidang Agama, Ekonomi dan Pendidikan, Aminullah mengatakan peningkatan pengamalan syariat Islam menjadi prioritas yang diterjemahkan dalam sejumlah program keagamaan.

Banyak kegiatan keagamaan digelar dengan harapan warga kota semakin dekat dan bertaqwa kepada Allah SWT dan RasulNya.

Data dari Satpol PP dan WH Kota, kasus pelanggaran ketentraman dan ketertiban mengalami penurunan. Tahun 2015 mencapai 1532 kasus, turun menjadi 775 pada tahun 2016. Terakhir di tahun 2018 pelanggaran ini berada di angka 531 kasus.

Kemudian kasus pelanggaran syariat Islam tahun 2015 mencapai 228 kasus, tahun 2016 ada 256 dan tahun 2017 turun menjadi 183 kasus. Data ini mengindikasikan, kesadaran bersyariat masyarakat Ibukota Provinsi Aceh ini semakin tinggi.

Di sektor ekonomi, telah dibentuk Lembaga Keuangan Mikro Syariah dengan nama PT. Mahirah Muamalah Syariah (PT.MMS). Kehadiran MMS sangat dibutuhkan oleh warga kalangan ekonomi lemah untuk kebutuhan modal usaha, dimana selama ini sangat sulit diperoleh dari sejumlah lembaga pembiayaan.

MMS hadir membantu modal usaha untuk pedagang sayur, pedagang kelontong, usaha air tebu, pedagang ikan (Mugee) dan usaha rumah tangga seperti kue kering dan kue basah serta usaha kecil lainnya.

“Mereka hanya butuh Rp.500 ribu hingga Rp.5 juta. Selama ini mereka terperangkap dalam jeratan rentenir. MMS ini kita harap dapat membantu pembiayaan mereka agar mereka bisa berdaya dan lepas dari riba,”ujar Aminullah.

Laporan dari Pimpinan PT. MMS, T Hanansyah, sejak diresmikan Wali Kota, Lembaga yang dipimpinnya telah memberikan bantuan pembiyaan kepada 542 warga ekonomi lemah. Bantuannya mulai dari Rp.500 ribu hingga Rp.5 juta yang diberikan tanpa jaminan.

Kata Hanansyah, syarat untuk mengajukan modal pembiyaan juga sangat sederhana.

“Banyak juga yang bilang susah mengajukannya. Perlu kami sampaikan warga hanya perlu membawa KTP, KK dan Surat keterangan dari Keuchik saja. Untuk usaha jasa yang butuh pembiyaan hingga puluhan juta, baru kita minta jaminan,” tambah Hanansyah.

Hingga saat ini, MMS juga telah mendapatkan kepercayaan dari warga kota. Sejauh ini MMS sudah berhasil menarik nasabah hingga 627 orang.

Dalam program ‘Wali Kota Menjawab’ Edisi Juni 2018 ini juga disediakan nomor telpon bagi warga yang ingin bertanya, menyampaikan saran hingga kritik.

Ada warga kota yang menanyakan layanan air bersih dari PDAM, bertanya tentang penanganan sampah hingga memberi masukan terkait ketertiban lalu lintas.

Satu per satu pertanyaan dijawab oleh Wali Kota dan ditambahkan secara detail oleh para Kepala SKPK jajaran Pemko yang seluruhnya hadir di pendopo.

Seperti soal sampah, sebanyak 300 ton sampah yang dihasilkan setiap hari dari sampah rumah tangga di Banda Aceh, nantinya akan diolah untuk menghasilkan tenaga listrik. Saat ini, salah-satu investor sedang melakukan penelitian terkait kelayakan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA gampong Jawa.

Terkait persoalan air bersih, Wali Kota meminta PDAM bekerja keras membenahinya hingga dipastikan tuntas di akhir 2019.

“Terhitung 1 Januari 2020, kita targetkan persoalan air bersih tuntas,”ujar Wali Kota.

Seperti disampaikan Dirut PDAM, kendala yang dialami pihaknya dalam mengatasi air bersih adalah pada tingkat kebocoran yang sangat tinggi (kurang lebih 40%). Kebocoran ini berdampak pada rendahnya tekanan air dan sulit teraliri hingga ke rumah-rumah pelanggan, terutama untuk wilayah ujung pelayanan (seperti wilayah pesisir).

“Tapi Insya Allah ini akan teratasi, kita sedang menjajaki kerjasama dengan pihak ketiga untuk menekan tingkat kebocoran air ini,” ujar Novizal Aiyub.

Penulis:mkk
Kode:01
Rubrik:Banda Aceh

Komentar

Loading...