Mantan Ketua Umum Persiraja, Asri Sulaiman, menjadi narasumber peHTem edisi Senin 29 November 2021 episode 29 Tahun ke II dengan tema: Gagal Mentas Di PORA, Sepak Bola Banda Aceh Semakin Terpuruk, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Breaking News

Gatot Nyapres 2024, dan 3 Jenderal TNI Lain ‘Adu Kuat’ Siapa Unggul?

Gatot Nyapres 2024, dan 3 Jenderal TNI Lain ‘Adu Kuat’ Siapa Unggul?NET
Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo

BANDA ACEH - Sejarah pemilihan presiden (pilpres) langsung di Indonesia sejak 2004 selalu memunculkan figur calon presiden dari kalangan militer. Pilpres 2024 pun diprediksi sama. Bahkan, kali ini figur militer yang meramaikan bursa capres lebih banyak dibanding pilpres-pilpres sebelumnya.

Sejauh ini ada lima jenderal TNI yang disebut-sebut punya kans nyapres.

Tiga di antaranya jenderal bintang empat, yakni mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, dan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko.

Sedangkan dua lainnya merupakan jenderal bintang tiga, yakni Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Prabowo Subianto, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo.

Satu capres berlatar belakang militer lainnya namun bukan berpangkat jenderal yang juga berpeluang, yakni Mayor (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menarik menantikan siapa dari nama- nama ini yang akan menjadi perwakilan kalangan militer di pilpres nanti?

Berikut analisa singkat mengenai figur TNI yang diprediksi berpeluang menjadi capres.

Gatot Nurmantyo

Nama Gatot Nurmantyo sudah muncul sebagai bakal capres pada Pilpres 2019.

Menjelang Pilpres 2024 namanya kembali disebut- sebut. Hanya, pada sejumlah hasil survei yang mengukur elektabilitas capres, Gatot belum meyakinkan.

Posisinya di luar lima besar. Misalnya, Gatot hanya menempati urutan 8 pada survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia (IPI) pada September 2020. Elektabilitas Gatot hanya 1,4%.

Apakah Gatot mampu mendongkrak elektabilitasnya hingga tiga tahun ke depan?

Jawabannya, tergantung bagaimana dia mampu menempatkan diri dan mengambil bagian dalam politik Tanah Air. Bisa dengan masuk menjadi anggota parpol, atau dengan berkontribusi untuk bangsa dengan aktif di organisasi.

Langkah Gatot masuk ke dalam barisan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bisa jadi bagian dari ikhtiar menjaga popularitas dan elektabilitasnya.

Dari sisi kapasitas kepemimpinan Gatot sudah teruji karena pernah menjabat panglima TNI. Dari sisi basis pendukung, Gatot juga punya cukup modal.

Gatot berpeluang merebut suara kalangan umat Islam. Saat menjabat panglima TNI, Gatot sudah menunjukkan kedekatannya dengan kalangan Islam, terutama dengan Kelompok 212.

Meski Gatot yang kini berusia 60 tahun cukup populer sebagai bakal capres, persoalannya adalah dia tidak memiliki parpol pengusung, berbeda dengan Prabowo dan AHY, yang memiliki Partai Gerindra dan Partai Demokrat. Ini yang bisa mempersulit langkah Gatot masuk gelanggang pilpres.

Prabowo Subianto

Dari sekian banyak figur militer yang berpotensi maju capres pada 2024, kans terbesar dimiliki Prabowo Subianto. Ada sejumlah alasan.

Pertama, dari sisi elektabilitas, mantan Danjen Kopassus ini masih di papan atas tokoh yang paling diunggulkan jadi capres.

Hasil survei IPI pada September 2020, elektabilitas Prabowo nomor dua dengan 16,8%.

Berdasarkan survei Populi Center pada November 2020, elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut malah di posisi pertama dengan 18,3%.

Sebenarnya, bukan hal yang mengejutkan jika elektabilitas Prabowo masih moncer.

Dengan modal capres dua kali berturut-turut pada 2014 dan di 2019, sangat lumrah jika elektabilitasnya masih tinggi. Namun, apakah rating Prabowo tersebut akan bertahan hingga 2024? Masih perlu pembuktian.

Salah satu keuntungan Prabowo adalah saat ini dia punya 'panggung' untuk menjaga pamornya. Jabatan sebagai Menteri Pertahanan bisa ia manfaatkan untuk menunjukkan kinerja yang baik agar dukungan publik terjaga.

Kedua, Prabowo memiliki partai. Artinya, kendaraan politik untuk kembali maju capres bukan hal yang susah baginya.

Gerindra partai terbesar ketiga di parlemen saat ini dengan 78 kursi. Sehingga, untuk mengusung capres-cawapres meskipun nanti presidential threshold tetap 20% Gerindra hanya perlu kaolisi dengan satu atau dua partai.

Pilpres 2024 bisa disebut pertarungan terakhir Prabowo. Pada 2024 nanti pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini sudah berusia 73 tahun.

Jika kembali bertarung di 2024, itu menjadi pertarungan keempat kalinya bagi Prabowo setelah pada 2009 juga maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Nasib baik bisa saja memihak Prabowo di pilpres keempatnya. Terutama jika kabar bahwa dia akan berpasangan dengan kader PDIP Puan Maharani benar terjadi.

Sudah sering diperbincangkan rencana duet Prabowo dengan Puan yang juga putri dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu.

Duet Prabowo-Puan disebut-sebut berpeluang besar memenangi pertarungan karena menggabungkan kekuatan dua parpol besar, yakni PDIP dan Gerindra.

Jika maju di pilpres berkoalisi dengan PDIP, kans Prabowo memang bisa mengecil. Ini tak lain disebabkan hilangnya sebagian basis pendukungnya, terutama dari kalangan umat Islam.

Pemilih Prabowo di dua pilpres sebelumnya berpotensi meninggalkannya sebagai bentuk kekecewaan atas masuknya Prabowo ke dalam barisan pendukung pemerintahan Jokowi.

Kampanye negatif yang juga bisa merugikan Prabowo yakni anggapan bahwa dia tidak pernah bisa memenangi pilpres, terbukti sudah tiga kali maju namun selalu gagal.

Andika Perkasa

Nama KSAD Jenderal Andika Perkasa mulai disebut-sebut sebagai figur yang layak menjadi capres atau cawapres.

Muda dan memiliki karier militer yang cemerlang jadi alasan mengapa Andika cukup diperhitungkan.

Andika berpeluang mendapat dukungan Istana. Dia sosok yang cukup dekat dengan Jokowi karena pernah menjabat sebagai Komandan Paspampres.

Nilai lebih jenderal bintang 4 ini adalah statusnya sebagai menantu dari AM Hendropriyono – salah satu sosok berpengaruh di pemerintahan Jokowi selain Luhut Pandjaitan.

Andika lahir pada 21 Desember 1964 atau hampir berusia 57 tahun. Dengan usia yang lebih muda dibanding beberapa seniornya di TNI, itu menjadi nilai plus.

Andika akan pensiun dari TNI pada 2023, atau setahun jelang pilpres. Itu momentum bagus buatnya. Ada jeda waktu setahun untuk menggalang kekuatan poliitik.

Nama Andika tentu akan semakin diperhitungkan apabila nanti dia yang dipilih oleh Jokowi menjadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto.

Andika bersama KSAL Laksamana TNI Yudo Margono disebut-sebut paling berpeluang menjabat Panglima TNI berikutnya.

Sejauh ini elektabilitas Andika masih di bawah seniornya seperti Gatot Nurmantyo atau Prabowo Subianto. Terlebih lagi dengan AHY.

Untuk memudahkan langkahnya menuju pilpres, pilihan Andika adalah bergabung ke parpol, atau justru membentuk parpol sendiri. Tanpa itu, langkah Andika maju pilpres akan cukup berat.

Moeldoko

Meski tidak pernah secara terang- terangan menyatakan berminat maju sebagai capres Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko bisa saja menyimpan keinginan itu. Seperti halnya jenderal TNI lainnya, mantan panglima TNI ini punya kans maju capres.

Moeldoko berpengalaman karena menjadi panglima dan sejak setahun ini menjabat kepala KSP.

Moeldoko juga menjadi salah satu orang kepercayaan Presiden Jokowi sehingga bukan tidak mungkin dia akan mendapat dukungan Istana.

Namun, dibanding dengan Gatot yang sudah melakukan beberapa investasi politik, termasuk dengan menjadi aktif di KAMI, Moeldoko cenderung masih adem ayem.

Karena itu, peluang jenderal TNI bintang empat ini untuk meramaikan bursa capres tergolong lebih kecil dibandingkan yang lainnya.

Doni Monardo

Munculnya nama Doni Monardo sebagai figur capres tak lepas dari kiprahnya saat ini sebagai Ketua Satgas Penanganan Covid-19.

Dari sisi kapasitas kepemimpinan, Doni juga sangat teruji karena pernah menjadi Danjen Kopassus.

Dukungan publik juga sudah mulai muncul, paling tidak tergambar dari hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang dirilis Juni 2020.

Doni Monardo memperoleh elektabilitas 2,9%, bahkan lebih tinggi dari Gatot Nurmantyo 2,1%.

Namun, nama Doni yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini diperkirakan hanya akan meramaikan bursa capres. Peluangnya untuk maju dinilai kecil dan terakhir.