Personel Polda Aceh akhirnya memberikan police line pada ratusan karung berisi limbah hasil tambang yang diduga illegal di pelabuhan Tapaktuan, Kamis (25/2/2021). Personel kepolisian daerah Aceh tersebut tiba di lokasi pengemasan limbah hasil tambang sekitar pukul 17:00 WIB dan langsung memasang police line (garis polisi). “Maaf, saya belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut, kami juga sedang proses pemeriksaan dan untuk informasi akan di informasikan oleh bagian humas kami,”katanya.

Breaking News

Petani di Aceh Tamiang Berhasil Kembangkan Bawang tanpa Pupuk, Begini Hasilnya

Petani di Aceh Tamiang Berhasil Kembangkan Bawang tanpa Pupuk, Begini HasilnyaSerambinews
Kasran (tengah) didampingi dua anggota DPRK Aceh Tamiang, Sugiono Sukandar dan Muhammad Irwan usai memanen bawang merah, Kamis (5/11/2020). Metode penanaman ini disebut semi intensif karena tidak menggunakan pupuk.

KUALASIMPANG – Petani di Aceh Tamiang berhasil mengembangkan tanaman bawang merah tanpa menggunakan pupuk berlebih.

Meski produktivitasnya belum maksimal, keuntungan yang diperoleh tetap besar karena minimnya biaya produksi.

Kasran (56), petani asal Sukarakyat, Rantau, Aceh Tamiang menyebut teknik penanaman ini sebagai sistem semi intensif.

Istilah ini dikarenakan pada proses penanaman tidak menggunakan pupuk dan tanpa mulsa.

“Sekali ada pakai pupuk NPK, itu pun cuma setengah goni,” kata Kasran, Kamis (5/11/2020).

Selebihnya, pria yang dipercaya sebagai Imam Dusun Damaimulia ini lebih mengandalkan tekstur tanah yang dinilainya memiliki unsur hara yang pas untuk tanaman bawang.

“Setiap hari cuma saya siram saja, Alhamdulillah ada hasil,” ungkapnya.

Proses tanam yang dimulai pada Juli lalu telah membuahkan hasil pada akhir Oktober dan awal November.

Di atas lahan 1,5 rante, Kasran mengaku berhasil memproduksi bawang merah dikisaran 400 kilogram.

Diakuinya hasil ini hanya separuh dari tanaman yang menggunakan banyak pupuk dan dilengkapi mulsa.

Namun Kasran mengaku mendapat untung memuaskan karena tertolong ongkos produksi yang rendah.

“Paling banyak saya mengeluarkan modal Rp 3 juta. Itu untuk bibit untuk membuka lahan. Jadi Alhamdulillah masih ada untung,” ujarnya.

Kasran mengungkapkan budidaya bawang merah merupakan pengalaman barunya. Sebelumnya dia memanfaakan lahan pertaniannya sebagai sawah.

Merasa puas dengan capaian perdananya di tanaman bawang merah, dia pun langsung menyiapkan lahan baru seluas 3,5 rante untuk kembali ditanam bawang merah.

“Awalnya coba-coba, masih ngawur. Nah dalam waktu dekat saya akan tanam lagi yang lebih serius, ada 3,5 rante sudah saya siapkan,” ujarnya.